Gereja GBKP Pamulang Berbagi Zakat untuk Umat Muslim


(Minggu, 12 Juli 2015) Zakat merupakan salah satu dari Lima Rukun Islam. Zakat itu sendiri adalah kewajiban menyisihkan jenis harta tertentu untuk disalurkan/dibagikan kepada sekelompok orang pada waktu tertentu. 


Gereja GBKP Pamulang yang berdiri di komplek Perumahan Villa Pamulang RT 04 RW 16, dimana komplek pemukiman tersebut didominasi oleh umat Muslim/Islam. Sebagai mana layaknya pemberian zakat adalah salah satu kewajiban bagi umat Islam, GBKP Pamulang merasa ingin ikut berbagi kepada warga sekitar komplek untuk berbagi zakat saat bulan Ramadhan.

Adapun pembagian zakat yang dilakukan oleh Gereja GBKP Pamulang dilakukan dengan cara membagikan paket Sembako. Dalam pembagiannya, sebelum hari yang ditentukan oleh Gereja GBKP Pamulang sudah memberikan Kupon-Kupon Sembako kepada siapa saja yang berhak mendapatkan zakat sembako tersebut. Saat hari yang sudah ditentukan tiba, pihak Gereja GBKP memberikan paket Sembako ditukarkan dengan  Kupon yang sudah disebarkan

Sejak pagi hari ini hingga siang menjelang sore (12/07/15), satu persatu warga muslim sekitar komplek sudah berdatangan untuk penerimaan Zakat yang diberikan oleh Gereja, dari sekitar 120 paket yang disediakan. Proses berjalan dengan lancar dan semua terlihat damai

IPTEK dan IMAN

Manusia berlogika adalah 20% dari kapasitas otaknya yaitu otak kiri, 80% manusia berspiritual 80% dari kapasitas otaknya yaitu otak kanan. Apa yang dihasilkan oleh spritual manusia dari doanya (otak kanan), itulah akhirnya menjadi misteri bagi kehidupan manusia itu sendiri, apa yang jadi misteri itulah menjadi pelajaran logika bagi manusia (otak kiri).
Itulah dasar buat bagi manusia saling berinteraksi sesama manusia itu sendiri, sehingga manusia membuat jalan kehidupan (keyakinan) diantara kehidupan itu sendiri dengan TUHAN, sehingga terjadi keseimbangan antara kehidupan manusia, dan Alam Semesta
Ilmu pengetahuan adalah fakta, teknologi adalah lokal. Ujung dari ilmu pengetahuan dan teknologi adalah IMAN. (Ilmu Pengetahuan & Teknologi adalah Logika otak kiri/20%, Iman adalah Spiritual otak kanan/80%)
---------
Enggo jelas tertulis bas ajaren-ajaren kegeluhen, gia skali ja nari pepagi rehna "Kita sada pe lang lit sibujur, sada pe lang, sebab kai sijadi pemeteh manusia terbatas kal nge krina, kiniliten simbelinna eme Iman sijadi Kiniteken"
Em salah sada dasar, kita kalak karo erbudaya radat nggeluh arah SANGKEP NGGELUH, peganci singelasi arah Rakut Sitelu (Kalimbubu, Sukut ras Anak Beru) peganci i rajaken, lah maka radu meteh uga jadi si ngelayasi ras i pehagaken sapihta nggeluh bagepe ku Dibata (Empu Kegeluhen ras Doni)

Dibata simasu-masu, amin !!!

Djasa Tarigan Maestro Musik Karo

(Juni 2011) Disambut sepi di dalam negeri, tak membuat Djasa Tarigan berhenti bergelut di kesenian tradisional Karo. Eksistensi sebagai putra daerah justru mendapat berbagai penghargaan dari negeri orang.

Pada “3rd International Rondalla Festival Querdas sa Pagkakaysa di Tagum City Philipina”, 12-19 Februari lalu Djasa Tarigan kembali dianugerahkan gelar Maestro Kulcapi Karo. Penghargaan itu diserahkan setelah penampilannya yang dianggap luar biasa oleh seluruh peserta.

Pada penampilannya itu, Djasa Tarigan memainkan lagu “Penganjak Kuda Sitajul” dengan kulcapi. Lagu itu mengisahkan cerita tradisional pada masyarakat Karo tentang seorang panglima pada masa peperangan dengan pasukan Aceh. Panglima tadi kemudian tewas ditembus peluru. Sebagai penghargaan masyarakat menggelar acara setiap tahunnya. Pada acara itu masyarakat meyakini arwah sang panglima hadir lewat suara kulcapi yang dipetik.

“Menurut seorang Maestro di Filipina itu, dia belum pernah mendengar efek suara seperti yang saya mainkan dari alat musik petik yang pernah ditemuinya di berbagai belahan dunia ini. Karena memang kulcapi bisa menimbulkan efek suara unik bila dimainkan menempel di kulit,” tuturnya.

Sebelumnya tahun 2000 ayah dari Rocky Tarigan (25) dan Yanto Tarigan (21) ini dianugerahi gelar Maestro dari pabrikan elektronik asal Jepang, Technics. Gelar itu diberi berkat ide memprogram suara-suara dari musik tradisi masyarakat Karo untuk dimainkan pada keyboard. Ide yang bahkan belum terpikir oleh negeri yang menjadi raja elektronik itu.

Begitu juga dengan gelar maestro pertama yang diraihnya di Belanda. Gelar yang dianugerahkan karena keberhasilan membuat alat musik terpanjang di dunia. Ketika itu Djasa membuat keteng-keteng, alat musik tradisional Karo yang terbuat dari bambu sepanjang sembilan meter. Atraksi saat memainkan alat musik ciptaannya tadi mendapat aplaus dari peserta kegiatan yang digelar di Leiden University Belanda 2001 silam.

Namun semua itu tidak diraih dengan mudah bahkan tidak jarang harus menguras kantong pribadinya. Belum lagi pergolakan batin karena keinginan mengembangkan kesenian tradisional Karo justru membuatnya mundur dari bangku kuliah. Juga kerakusan masyarakat yang keliru melihat karyanya.

Lahir di Kabanjahe 19 Oktober 1963, Djasa kecil juga mewarisi bakat seni dari keluarga yang memang seniman. Untuk mengasah kemampuannya, Djasa berguru pada seniman tradisional Karo, Tukang Ginting (Alm) di Berastagi. Setelah menamatkan pelatihan, anak keenam dari 10 bersaudara ini bergabung dengan grup musik tradisi dan bermain di Hotel 
Bukit Kubu Berastasi sejak 1982.

Permainan alami yang diperlihatkan ternyata mendapat perhatian dari AP Pasaribu yang kala itu Rektor Universitas Sumatera Utara dan Rizaldi Siagian yang menjabat Ketua Jurusan Etnomusikologi USU. Djasa pun ditawarkan sebagai dosen musik Karo di kampus tersebut. “Setahun juga baru saya kasih jawaban dan itulah jalan saya ke Kota Medan,” kenangnya.

Perkembangan di dunia hiburan kala itu membuat Djasa yang juga aktif bermain musik di pesta-pesta masyarakat Karo sedikit kewalahan. Permintaan pun tidak lagi lagu tradisi semata juga lagu dangdut hingga lagu asing yang tidak mungkin diiringi dengan instrumen tradisional. Maka, mulai 1988 dirinya mengadopsi keyboard mendampingi alat musik tradisi yang tetap dipertahankan.

Inisiatif tadi terus menerus memberinya undangan bermain keliling Indonesia. Tidak itu saja, dirinya bahkan menjadi inspirasi puluhan grup musik Karo di sekitar kawasan Padang Bulan. Berlanjut pada membuat program suara masing-masing instrumen tradisional Karo ke dalam keyboard. Ide yang di satu sisi positif karena membuka lapangan pekerjaan sebagai pemain keyboard sekaligus berdampak negatif dan menyesakkan dada.

“Ide itu mendapat tentangan dari pemerintah dan kampus. Karena sekarang semua acara adat sekalipun hanya menggunakan keyboard. Tidak ada lagi alat musik tradisional yang memiliki interval nada berbeda dengan musik barat pada keyboard. Sekalipun orientasinya pada bisnis tapi situasi ini jauh dari gambaran saya dulu,” tutur pria single parents ini.


Djasa kemudian memutuskan berjalan sendiri memperkenalkan musik tradisional Karo. Bersama sahabatnya yang juga etnomusikolog Irwansyah Harahap mereka mengibarkan sansaka Merah-Putih dan menyanyikan Indonesia Raya di berbagai belahan dunia. Semua itu membuktikan bagaimana kebudayaan negeri ini sudah seharusnya mendapat perhatian pemerintah. Penghargaan yang tulus akan karya sang maestro pun diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kala di Istana Negara 2005 lalu. (jul)

Djasa Tarigan
Lahir : Kabanjahe, 19 Oktober 1963
Istri : Rosnala Br Barus (Alm)
Anak : Rocky Tarigan (25), Yanto Tarigan (21)
Alamat : Jalan Bunga Herba II No.26 Medan
Jabatan : Pemilik Djast Entertaiment
Penghargaan : Maestro Musik Karo di Leiden University Belanda 2000
Maestro dari Technics di Osaka Jepang 2001
Maestro Kulcapi Karo di Manila 2011
Karya : Program instrumen tradisional Karo pada keyboard 1986
Keteng-keteng terpanjang di dunia 2001
Konser Budaya Karo “Semalam di Tanah Karo” di Pardede Hall 2004