BUDAYA MUDIK


Budaya mudik pada hari libur keagamaan di Asia sangat fantastic khususnya di China dan Indonesia. Tak ada satupun himbauan atau aturan negara yang memaksa orang untuk mudik. Tapi komunitas yang jumlahnya tak terbilang itu menjadi gerombolan yang terorganisir dengan baik untuk bergerak kesatu arah yang sama, yaitu kekampung halaman. Para komunitas ini tidak peduli dengan ongkos yang harus dikeluarkan, berlelah lelah dalam perjalanan adalah hiburan tersendiri bagi komunitas ini. Ini terjadi bukan hanya satu generasi tapi dari generasi kegenerasi. Sudah menjadi budaya yang tak lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan. Dunia boleh canggih. Satelit boleh bertebaran diangkasa, Internet boleh mewabah dimana saja, namun komunikasi tatap muka dan cium tangan bersama handai tolan tak tergantikan.

Air pancuran jatuh melewati bambu. Agama mengalir melewati Budaya. Agama berkata, adat memakai. Suatu kombinasi termaha agung yang menyatukan manusia, alam dan Tuhan. Inilah fitrah manusia sesungguhnya. Inilah yang disebut dengan geopolitik dan geostrategis dalam kebijakan mengelola komunitas. Siapapun pemimpin yang ingin membangun peradaban tanpa memperhatikan geopolitk, geostrategis akan mandul ditengah jalan. Kebijakan hanya ada dalam catatan buku besar namun tak pernah sampai diterapkan secara memuaskan. Ilmu hebat dibidang ekonomi, sains hanya sampai dilaboratorium dan memenuhi perpustakaan. Sementara peradaban yang diimpikan oleh para cerdik pandai tak bertemu dengan kenyataan karena kebijakan yang dibuat tidak membumi. Kebijakan lepas dari orbit.

Pemimpin boleh berganti tapi gunung selalu ditempatnya. Bukit tak pernah pergi dari dudukannya. Mengelola komunitas adalah mengelola wilayah dan budaya. Ketika Majapahit berkuasa di Nusantara ini, ketika itulah Islam masuk ditanah Jawa yang dibawa oleh para wali yang sebagian besar berasal dari tanah daratan China. Para wali tidak menghilangkan budaya lokal tapi memoles budaya itu dalam nuasa Islam. Makanya lambat laun islam menyebar luas di Nusantara dan yang lebih penting lagi tidak ada sedikit pertentangan dengan kerajaan Majapahit karena mereka melihat Islam datang tidak menawarkan sebuat revolusi tapi reformasi budaya untuk kedamian dan kesejahteraan. Dari budaya islami dengan kearifan lokal, aqidah ditegakkan. Kerajaan Majapahitpun runtuh tanpa revolusi bau amis darah, yang digantikan oleh kerajaan Islam.

Hal tersebut diatas adalah fakta sejarah. Bukan hanya terjadi di Indonesia tapi hampir diseluruh dunia penyebaran agama islam melalui misi social dan budaya. Karena sebelum agama diperkenalkan Manusia sudah berinteraksi lebih dulu dengan alam dan tentu Allah yang mengajarkan manusia untuk beriteraksi itu secara turun temurun. Orang minang berkata ” Alam terkembang Jadi guru ” Islam adalah project sosial dari sebuah gerakan akhlak untuk meninggikan agama Allah. Tak sulit untuk dipahami oleh seluruh budaya didunia bila kearifan islam tampil untuk cinta dan kasih sayang membangun peradaban yang lebih baik. Tentu tak sulit bila syariah Islam ditegakan tanpa menyinggung budaya lokal. Inilah yang terjadi pada budaya mudik.

Romantisme budaya untuk selalu ingat kampung halaman, untuk ingat kepada orang tua, kepada teman, kepada handai tolan adalah bagian yang tak dipertentangkan oleh ajaran Islam dan bahkan inilah ujud tertinggi akhlak mulia untuk rindu saling menyapa dan berkasih sayang sebagai mana Islam mengajarkan bahwa kecintaan kepada sesama mekhluk adalah repliksi kecintaan kepada Allah. Andaikan para pemimpin Negara, pemimpin agama, para intelektual, para ahli rekayasa sains dapat melahirkan sebuah platform membangun peradaban dalam satu kuridor budaya dan agama, alangkah indahnya. Karena platform ini tidak butuh propaganda untuk dimengerti rakyat. Ia akan mengalir dengan sendirinya dan langsung diterima oleh rakyat sebagai sebuah kepatutan tanpa paksaan, seperti budaya mudik.

Makna Landek 5 Serangke seri ras Dinamika Nggeluh


Makna "Landek 5 Serangke" seri ras Dinamika Nggeluh.


Rangke 1 (Pertama) ...

Medele endekna, tempa-tempa bagi kalak erdalin ibas nangkeng-nangkeng, rikutken wari pe paksa perudan. 

Rangke 2 (Peduaken)...

Enggo kurang dale perlandekna. Ije tempa lanai uga nangkengna tapi dalan simandalinen lanai bagi sipertama man dalinen gia wari mudan denga.

Rangke 3 (Peteluken)...

Ije dalin siman dalinen enggo nandangi kendit janah wari udan pe enggo ngadi muat ku salangna wari. Ije mulai meriah ukur perbahan nandangi seh me ikuta kemungkihen.

Rangke 4 (Peempatken) ...

Dalan si man dalinen enggo kendit, enggo teridah pulo-pulo kuta si man tujun, ras perlandek pe enggo mulai mekacar.

Rangke 5 (Pelimaken)...

Seh riahna ukur, enggo begi sora surak anak kuta siman tujun. Enggo terangeh asap dapur. Jumpa meriah ras anak kuta. 

Bagi si enggo pernah Landek Lima Serangke, memang ngalah pertang-tangna tapi tertambari ngalah-ngalah adi enggo landekken rangke berikutna.

Bage me bunga-bunga nggeluh. Metahat mesera mula-mulana, entebu pendungina. 

Erpengarapen kal kita kerina, sienda ras-ras kita letarikensa. Sebab sie krina lit mehuli kap. Bujur ras mejuah-juah...!!!

KARO dalam Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71


Atas nama ADAT Budaya KARO, kami menyatakan MARDEEEKA Indonesia Raya... !!!

Ada sebuah alasan kenapa kami KARO sangat kental dengan kekerabatan ADAT nya. Sejak zaman Nuria kami sadar bahwa manusia berpikir itu memiliki keterbatasan atas semua hal dalam kehidupan ini, kami paham dan sadar bahwa manusia berpikir secara nalar logika adalah hanya maksimal 20% dan lebih dari itu yakni 80% nya adalah dibawah kesadaran berpikir manusia.

Maka dari itu, kami hanya bisa mufakat dalam satu demokrasi saling hidup bergantian jadi terpimpin / kerajaan berfilosofi (Kalimbubu, Sukut dan Anakberu). Sehingga diantara kami tidak pernah menghargai seorang pemimpin, apa lagi sistem libral yang sarat ingin disanjung "IA AKAPNA SIPAYONA". 

KARO tidaklah demikian adanya sehingga diantara itu ada ACC yang menjadi KEKELENGEN TERBUNI. Kami hanya minta untuk dipahami, bukan anda yang selalu untuk dipahami atas pola pikir yang telah terjajah itu.

Kibarkan Bendera Sangsaka KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA.

Sehingga dari Murdekaa... menjadi MARDEKA.... !!!

Bujur, mejuah-juah...!!!